pilih cinta atau harta?
sudah lama sekali tidak menulis di blog. tapi ada pertanyaan di group facebook yang membuat saya menulis ini.
pertanyaan di atas dengan mudah akan saya jawab : jangan pernah memilih harta. kenapa? karena jawaban yang benar adalah cinta.
cek bio saya. usia saya sudah lewat setengah abad. terlalu banyak kejadian yang sudah saya lihat. dari refleksi melihat orang-orang yang dulu menikah karena harta, terlalu banyak saya lihat tanda-tanda ketidakpuasan, atau lebih tepatnya ketidakbahagiaan. akhir cerita mereka bisa bermacam-macam. ada yang selingkuh dan bercerai. ada yang bercerai dan menikah dengan cinta lamanya. ada yang kecewa dan tidak sanggup percaya pada pasangannya, terpikir pasangannya bisa melakukan apapun karena harta, dan merasa mungkin dulu terlalu cepat menikah. ada yang mempertahankan pernikahan dengan menahan derita batin. sebaliknya dari refleksi melihat orang-orang yang memilih cinta sebagai alasan, banyak yang bisa melewati badai. ada yang sudah kepingin cerai tapi dalam satu kali ngobrol dengan saya bisa menemukan motivasi kuat untuk memperjuangkan pernikahannya. ada yang dalam kejatuhan ekonomi bisa bangkit dengan motivasi baru. ada pecandu narkoba yang tiba-tiba punya motivasi untuk sembuh. ada pribadi gamang yang berhasil menemukan kekuatannya kembali dan menjadi orang normal. dan orang-orang yang akhirnya menemukan cinta lamanya.
kenapa cinta bisa menjadi motif yang demikian besar? dari perkataan seseorang saya temukan bahwa cinta lah energi terbesar yang dibutuhkan manusia. dia butuh cinta. seorang manusia lahir dari benih cinta. dia lahir dari cinta kedua orang tuanya. bila cinta kedua orang tuanya tidak ada lagi, anak ini pun retak / broken. bila beruntung, dia bisa mengisi lagi relung cintanya dari orang lain. dan menjadi lengkap lagi. hanya orang dengan cinta yang penuh lah yang bisa memberikan cintanya pada orang lain.
saya tidak bicara tentang cinta yang bertepuk sebelah tangan. bila ada pasangan yang datang minta konsultasi, setelah banyak pertanyaan dan jawaban maka saya akan memberi sebuah pertanyaan terakhir yang tidak bisa saya jawab, hanya bisa dijawab ybs. apakah kamu mencintai pasanganmu? dan saya tidak mengharapkan jawaban. mereka boleh memikirkannya sendiri. dari sini saya bisa lihat hasilnya di depan. saya tidak perlu menanyakan lagi. cukup melihat bagaimana pasangan ini melanjutkan hidup mereka.
pada sisi lain, bila kita dihadapkan dengan orang yang bermasalah. kita bisa coba menganalisa dari sisi cinta juga. bagaimana pernikahan orang tuanya. apakah dia punya pasangan, dst. demikian pula terapinya bisa dengan memberikan alasan untuk mencinta. itulah sebabnya baik bagi orang yang hidup sendiri bila mempunyai hewan peliharaan yang disayanginya. sama halnya orang religius yang mendekatkan dirinya ke tuhan. meski keduanya boleh dibilang pseudo love / palsu karena sebagai mahluk sosial manusia perlu berkomunikasi.
banyak pernyataan klise yang memihak harta daripada cinta seperti : mau makan apa, makan tuh cinta, kita butuh harta untuk cinta. biasanya ini tanpa sadar adalah pelarian orang-orang yang tidak mempunyai cinta, dan turunannya. kurang percaya diri bahwa dia bisa mendapatkan cinta. salahkan orang lain : saya tidak punya harta. orang seperti ini harus memperbaiki pandangannya terhadap diri sendiri. dia harus menemukan cintanya. bila tidak mau, silakan tidak bahagia selamanya.
film aadc (ada apa dengan cinta) dan lanjutannya aadc2 mungkin hanya film remaja. tapi dia menggambarkan dengan sangat baik realita hidup manusia. tokoh cinta dan rangga adalah contoh dua orang yang akhirnya berani memilih untuk bahagia. banyak manusia tidak seberani mereka. lalu banyak alasan dan menyalahkan yang lain. jadilah pemberani.
bila sudah punya anak, cintailah mereka. anak-anak bukan property milikmu. mereka adalah individu merdeka yang lahir dari keinginanmu. bukan juga titipan tuhan, kamu akan gagal fokus bila berpikir demikian. tidak ada anak yang minta dilahirkan. beranilah berkorban demi mencintai mereka, karena itu sudah tanggung jawabmu. tidak ada anak durhaka. yang ada cuma ortu baper.