leaving-god

Friday, July 07, 2006

dari siapa kita belajar?

kalo sekolah adalah tempat belajar, jawaban pertanyaan di atas tentunya : dari guru. pertanyaan selanjutnya adalah, apa itu sekolah dan siapa sih guru kita. ada gedung sekolah dan lembaga pendidikannya. isinya ada banyak guru profesional. anak-anak diajar oleh guru dewasa dan tentunya lebih pandai dari muridnya.
tiap tahun kita naik kelas, sampai akhirnya lulus. terus bekerja. ada juga yang meneruskan sekolah. ada yang bekerja sambil sekolah. ada yang bekerja dulu terus sekolah lagi. ada yang bekerja sampai pensiun eh sekolah lagi. intinya makin lama kita makin tua dan guru kita tidak selalu lebih tua. kadang2 pengajarnya kesulitan dengan murid yang lebih tua demikian. murid begini bisa2 lebih pandai sehingga seharusnya mengajar saja, ha2. itu kalo di pendidikan formal.

katanya hidup itu sendiri adalah belajar. dengan pola pikir seperti anak bersekolah, kita sering memposisikan senior kita menjadi mentor. mana yang senior sering kita nilai dari umur, karena tentunya pengalaman mereka lebih banyak. meski tidak selalu demikian, karena tidak semua orang bersikap belajar sepanjang hidup.

tentang belajar, ada yang saya suka dari orang yahudi (yang bilang atasan senior saya dulu). kebetulan waktu itu saya masih arsitek junior dan sedang bekerjasama dengan tenaga arsitek asing. dia jelas lebih senior dan pandai. dia dari firma amerika kelas dunia. saya heran dia itu bisa2nya tanya2 dan minta pendapat saya tentang apa yang dia kerjakan. saya juga diberi banyak kebebasan merencanakan apa yang saya kerjakan. padahal rasanya dia ga perlu bantuan saya. saya cuma ada di sana karena lingkup pekerjaan dia tidak sampai akhir proses, tim lokal yang akan menyelesaikan tahap akhirnya.
keheranan ini saya utarakan ke atasan saya. dia bilang, si arsitek amerika itu dari namanya pasti turunan yahudi. bangsa yahudi punya sikap bahwa, pasti ada sesuatu (sukur2 penting) yang bisa mereka peroleh dari setiap orang lain yang ditemui, semata demi kepentingan mereka juga. mereka tidak perlu memilih apa dan siapa orang lain itu, umur tidak menentukan juga. ini yang sering salah diartikan bahwa, yahudi itu rakus. padahal mereka bukan melulu memikirkan materi saja, pengetahuan termasuk sesuatu yang mereka anggap penting diperoleh. ga heran mereka jadi pinter banget. padahal dari sononya udah pinter lho. matilah kita, ha2! jangan takut, tiru aja cara mereka.

dari cerita di atas, yang dilakukan yahudi tadi adalah : belajar dari junior. ini yang sering kita lupa. saya juga kadang lupa (atau pre-determined mind ya?). ada cerita lama, saya pernah merencanakan sebuah kawasan rekreasi dengan mewawancarai anak2 kecil (ha2, ini way beyond junior). bahkan membiarkan mereka men'coret2' site planning sebagai bagian prosesnya. saya terkejut juga dengan masukan2 yang bisa saya dapat saat itu. hasilnya adalah beberapa objek di jaya ancol. apa jadinya kalo bos2 di ancol tau ada anak2 kecil ikutan merancang properti mereka?
tapi cerita di atas mungkin lebih mudah karena kita memandang anak2 tadi sebagai end user. kalo belajar dari yang benar2 junior di kantor, masih maukah kita? sebaiknya demikian, kalo kita bener2 mau meniru si yahudi. ave junior! (artinya cuma salam koq)

senin lusa, di kantor akan ada pelatihan tentang standar gambar kerja arsitek. ini kita lakukan karena kemarin dulu baru dapat masukan dari ex pegawai junior (banget) yang baru aja resign. Ha2, dia memang sebenarnya pantes jadi komisaris. by the way, dia perempuan.

1 Comments:

At 8:06 AM, Blogger mirya said...

This comment has been removed by a blog administrator.

 

Post a Comment

<< Home