being small ("garam dunia")
dalam "me first, please...", kata terakhir saya adalah "garam dunia". Kenapa saya bilang, "ga apa2 kan...?", karena istilah ini saya ambil dari: "jadilah garam dunia!", slogan agama katolik setelah konsili vatican II. paus saat itu mereformasi gereja supaya membumi. walau kecil peranmu pastikan tetap yang berguna, persis seperti garam. saya pernah dengar kotbah menarik dalam tema ini, di gereja blok-b, rasanya pengin sharing aja.
kotbah biasanya membahas tema dari bacan injil hari itu. bacaannya tentang mukjizat yesus membagi roti dan ikan. dari cuma berapa potong, tapi ternyata setelah dibagikan bisa memenuhi makan ribuan orang, plus masih sisa beberapa bakul. (jangan pernah percaya cerita injil secara harfiah, kamu ga bakal pinter)
waktu kotbah, pasturnya cerita yang lain. tentang klinik super murah mereka untuk orang miskin. syarat untuk boleh memakai fasilitas klinik ini cuma satu: musti miskin. kalo yang datang bule pun boleh, asal miskin aja d. pertama dibuka, mereka sebenarnya ragu, berapa lama klinik ini bisa bertahan tetap buka? ternyata dalam perjalan waktu selama dibuka, ada saja yang menyelamatkan klinik ini. pas obat abis, eh ada yang nyumbang. pas dokter berhalangan, ada yang menggantikan. setelah diperiksa daftar pasien selama 3 thn, ada terdaftar 13000an pasien. dalam versinya sendiri, mukjizat itu terjadi lagi.
seringkali kita merasa terlalu kecil dan tak punya modal cukup untuk melakukan hal berguna, apalagi untuk masyarakat, atau lebih serem lagi, untuk dunia. ha2, keren ya? cerita di atas bisa jadi contoh bahwa, jangan pernah berpikir begitu. lakukan saja hal2 positif, kita ga pernah tau sebesar apa efeknya bila kita melakukannya berbarengan. dulu di mtv ada slogan: "think globally, act locally". walau waktu itu dipakai lebih untuk masalah pelestarian lingkungan hidup, recycling dlsb-nya gitu, rasanya semangat serupa masih relevan sampai kapan aja d.
jangan takut ya being small... just do it! (ha2, yang ini dari nike!)

0 Comments:
Post a Comment
<< Home