leaving-god

Friday, July 28, 2006

katolik...bukan katolik

belum lama ini saya ngumpul2 sama teman kuliah. dua teman (renny & dani) ngebahas soal agama. entah kenapa, mereka mencap saya orang yang ga beragama, mungkin karena saya ga pernah serius? yaa...sekalian aja saya terusin. ha2. ga pa2 juga, lucu2 aja. saya bilang juga punya blog namanya leaving-god...
waktu mau pulang, yang punya rumah (roland & renny) baik banget mau ngiringin teman yang perempuan (dani), padahal bawa mobil sendiri, memang sudah malem si. kebayang mereka udah di rumah, pergi lagi cuma ngiringin orang yang bawa mobil sendiri pulang ke rumah. saya bilang sama si dani: "...mereka itu baik banget ya,...tapi itu bukan karena agamanya lho,... tapi karena mereka baik aja...". dani ketawa mengiyakan, mengingat status saya yang ga beragama tadi. renny itu batak (protestan), roland katolik tapi sekarang ikut renny juga.

orang sering menilai agama ada ngaruhnya sama baik buruk seseorang. sering lah denger2 ucapan seperti: orang katolik itu decent people ya; bos lu katolik? bagus deh, biasanya baik; ga mungkin lah dia gitu, katolik lho; kenapa ya kalo pegawai yang katolik koq attitudenya baik. Sukur deh, citra katolik kayak gitu. tapi please jangan mentang2 deh.

hari minggu kemarin saya ke gereja santa. di depan saya ada keluarga muda dengan satu anak kira2 kelas 5 sd. mestinya mereka keluarga katolik ya, kan di gereja santa. ada seorang ibu dengan dua anak mau duduk di kursi kosong sebelah mereka. si bapak bersiap-siap bergeser mau ngasih tempat,...eh istrinya ngomelin si suami supaya jangan pernah mau geser (tentunya dengan suara ditahan). gila deh, judes banget. akhirnya ibu dengan dua anak tadi mencari tempat lain.

crash...coincidence happens. bacaan hari itu tentang kelompok yesus dan para rasul yang biar capek terus melayani karena belas kasih. kotbahnya jadi tentang belas kasih, yang definisinya ga jelas menurut pastor yang kotbah, tapi kira2 artinya 'solidaritas' katanya... saat kita bersedia mengorbankan milik kita untuk orang lain yang juga membutuhkan. (istri yang judes tadi denger kotbah ga ya?)

sebagai contoh kasus, pastor ngebacain artikel koran kompas hari sabtunya. tulisan guru sma de brito yogya. tentang pak sipon korban gempa yang selesai memakamkan anak dan cucunya malah segera bergotong royong membereskan kampung mereka. juga pemuda kelas tiga sma, supartono yang rumahnya rata tanah tapi memilih menjadi relawan menyalurkan sumbangan untuk korban lainnya.
di akhir kotbah, pastor (romo romualdus maryono sj) cerita bahwa usai baca artikel tersebut dia menelpon interlokal si penulis dan menanyakan : "...apakah pak sipon dan pemuda supartono itu katolik...?" jawaban dari seberang interlokal : "...bukan...!"
(dalam hati saya bilang : " ini pastor, keren ")

Friday, July 07, 2006

dari siapa kita belajar?

kalo sekolah adalah tempat belajar, jawaban pertanyaan di atas tentunya : dari guru. pertanyaan selanjutnya adalah, apa itu sekolah dan siapa sih guru kita. ada gedung sekolah dan lembaga pendidikannya. isinya ada banyak guru profesional. anak-anak diajar oleh guru dewasa dan tentunya lebih pandai dari muridnya.
tiap tahun kita naik kelas, sampai akhirnya lulus. terus bekerja. ada juga yang meneruskan sekolah. ada yang bekerja sambil sekolah. ada yang bekerja dulu terus sekolah lagi. ada yang bekerja sampai pensiun eh sekolah lagi. intinya makin lama kita makin tua dan guru kita tidak selalu lebih tua. kadang2 pengajarnya kesulitan dengan murid yang lebih tua demikian. murid begini bisa2 lebih pandai sehingga seharusnya mengajar saja, ha2. itu kalo di pendidikan formal.

katanya hidup itu sendiri adalah belajar. dengan pola pikir seperti anak bersekolah, kita sering memposisikan senior kita menjadi mentor. mana yang senior sering kita nilai dari umur, karena tentunya pengalaman mereka lebih banyak. meski tidak selalu demikian, karena tidak semua orang bersikap belajar sepanjang hidup.

tentang belajar, ada yang saya suka dari orang yahudi (yang bilang atasan senior saya dulu). kebetulan waktu itu saya masih arsitek junior dan sedang bekerjasama dengan tenaga arsitek asing. dia jelas lebih senior dan pandai. dia dari firma amerika kelas dunia. saya heran dia itu bisa2nya tanya2 dan minta pendapat saya tentang apa yang dia kerjakan. saya juga diberi banyak kebebasan merencanakan apa yang saya kerjakan. padahal rasanya dia ga perlu bantuan saya. saya cuma ada di sana karena lingkup pekerjaan dia tidak sampai akhir proses, tim lokal yang akan menyelesaikan tahap akhirnya.
keheranan ini saya utarakan ke atasan saya. dia bilang, si arsitek amerika itu dari namanya pasti turunan yahudi. bangsa yahudi punya sikap bahwa, pasti ada sesuatu (sukur2 penting) yang bisa mereka peroleh dari setiap orang lain yang ditemui, semata demi kepentingan mereka juga. mereka tidak perlu memilih apa dan siapa orang lain itu, umur tidak menentukan juga. ini yang sering salah diartikan bahwa, yahudi itu rakus. padahal mereka bukan melulu memikirkan materi saja, pengetahuan termasuk sesuatu yang mereka anggap penting diperoleh. ga heran mereka jadi pinter banget. padahal dari sononya udah pinter lho. matilah kita, ha2! jangan takut, tiru aja cara mereka.

dari cerita di atas, yang dilakukan yahudi tadi adalah : belajar dari junior. ini yang sering kita lupa. saya juga kadang lupa (atau pre-determined mind ya?). ada cerita lama, saya pernah merencanakan sebuah kawasan rekreasi dengan mewawancarai anak2 kecil (ha2, ini way beyond junior). bahkan membiarkan mereka men'coret2' site planning sebagai bagian prosesnya. saya terkejut juga dengan masukan2 yang bisa saya dapat saat itu. hasilnya adalah beberapa objek di jaya ancol. apa jadinya kalo bos2 di ancol tau ada anak2 kecil ikutan merancang properti mereka?
tapi cerita di atas mungkin lebih mudah karena kita memandang anak2 tadi sebagai end user. kalo belajar dari yang benar2 junior di kantor, masih maukah kita? sebaiknya demikian, kalo kita bener2 mau meniru si yahudi. ave junior! (artinya cuma salam koq)

senin lusa, di kantor akan ada pelatihan tentang standar gambar kerja arsitek. ini kita lakukan karena kemarin dulu baru dapat masukan dari ex pegawai junior (banget) yang baru aja resign. Ha2, dia memang sebenarnya pantes jadi komisaris. by the way, dia perempuan.